Critical Eleven Menguras Air Mata

Apakah anda salah satu penikmat novel? Tentu anda sudah tidak asing lagi dengan Ika Natassa. Ya, Critical Eleven merupakan karya Ika yang terkenal, karena dinobatkan sebagai novel national bestseller. Ekpektasi penonton menjadi lebih tinggi setelah mengetahui kalau pemeran Ale dan Anya adalah Reza Rahadian yang dipasangkan dengan Adinia Wirasti. Keduanya merupakan aktor dan aktris terbaik yang dimiliki Indonesia saat ini. Apalagi sudah banyak sekali film yang diperankan mereka.

Sinopsis Critical Eleven

Umumnya para pembaca novel akan membayangkan mengenai adegan yang dituliskan di dalam cerita dan berharap filmnya sesuai dengan bayangan mereka. Nah, dalam film yang disutradarai oleh Monty Tiwa dan Robert Ronny, ternyata dapat menyampaikan cerita dalam novel ke bentuk visual dengan sangat apik, bahkan tak sedikit penonton yang menangis.

Cerita Critical Eleven dimulai dari Ale dan Anya yang terpikat dalam penerbangan Jakarta – Sydney. Pertemuan tersebut ternyata berlanjut ke jenjang pernikahan. Setelah menikah, ada cobaan dan rintangan yang perlu mereka lalui, mulai dari pengorbanan yang harus dilakukan salah satu dari mereka untuk pindah ke New York, sehingga ada keputusan besar yang harus diambil dan tentu itu akan mengubah hidup mereka. Di New York, Anya hamil.

Perjalanan kisah mereka akan semakin rumit, setelah terjadi insiden yang tidak hanya membuat mereka bertanya mengenai cinta, tapi juga bergelut dengan ego dan harus memilih : menyerah dalam amarah atau memilih menyembuhkan luka dan bertahan dalam ketidakpastian. Pilihan tersebut semakin sulit, karena adanya kehadiran domino qiu qiu orang yang telah lama mencintai Anya.

Novel Vs Film Critical Eleven

Jika dibandingkan cerita dalam novel dan film, memang ada perbedaan, seperti tambahan karakter sahabat laki-laki Anya, Doni yang diperankan Hamish Daud. Kehidupan Ale dan Anya di Amerika juga nampak lebih signifikan di film dibandingkan di novel. Selain itu ada juga adjustment kecil ketika Anya dan Ale bertemu pertama kali di pesawat. Meskipun begitu, novelnya dapat diadaptasi dengan sangat baik, sehingga menyajikan film yang tetap menarik.

Suksesnya karya berdurasi 135 menit ini tentu tidak terlepas dari peran dari Reza Rahadian dan Adinia Wirasti, selain dari skenario yang pas. Penentuan aktor dan aktris yang berperan sebagai tokoh utama dalam film yang diambildari novel, memang cukup sulit, karena harus dapat memerankan karakter yang telah hidup di kepala para pembaca. Tapi pemilihan Reza Rahadian dan Adinia Wirasti dinilai tepat, karena Ale dan Anya dapat diperankan dengan mengagumkan. Para penonton seperti tersihir untuk masuk ke dalam film, meskipun sebelumnya sudah membaca novelnya.

Film di Indonesia memang sering sekali diwarnai oleh Reza Rahadian dan Adinia Wirasti. Mereka kerap mondar-mandir di perfilman tanah air. Hal tersebut membuat tak sedikit orang berfikir akan bosan, saat melihat mereka lagi. Tapi ternyata hal itu tidak terjadi.

Justru Reza Rahadian dan Adinia Wirasti lah yang membawa cerita menjadi mengalir, membuat penonton terbawa hanyut dalam kesedihan hingga berlinangan air mata, dan ikut terbawa perasaan ketika Ale dan Anya bercanda tertawa. Selain diwarnai oleh Reza dan Adinia, adapula Wisyawati, Slamet Rahardjo, Revalina, Hamish Daud, Dwi Sasono sampai pemain baru Refal Hadi, yang berperan sebagai Galih dalam film Galih dan Ratna.

Film Critical Eleven ini membalut sebuah kisah cinta manis, yang dibumbui kesedihan sangat dalam tapi juga menceritakan sebuah kehangatan hubungan yang dibungkus sangat apik oleh sang sutradara, Monty Tiwa. Apalagi ditambah dengan suara Isyana Sarasvati, yang menyanyikan salah satu soundtracknya berjudul Sekali Lagi, menjadikan suasana dramatis menjadi semakin terbentuk.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *