Garam Langka, Mendag Buka Keran Impor Sebanyak 75 Ton

Enggartiasto Lukita, Menteri Perdagangan (Mendag), memastikan bahwa ia sudah menyetujui impor garam dengan jumlah total mencapai 75.000 ton. Enggar menyebutkan bahwa stok ini tak hanya untuk kebutuhan garam konsumsi namun juga digunakan untuk kebutuhan industri.

Butuh Surat Rekomendasi Impor

Menurutnya, impor garam dirasakan perlu guna memenuhi kebutuhan nasional. Disebutkannya, jumlah ini hanya untuk tahap awal saja. Hal ini disebabkan karena kalangan industry juga banyak yang membutuhkannya seperti sebut saja, industri kaca dan juga kertas. Nantinya, penugasan impor bakal diberikan kepada perusahaan pelat merah yakni PT. Garam (Persero).

Enggar yang ditemui hari Senin (31/7) lalu menyatakan. “Jadi hari Jumat kemarin saya undang Bareskrim, Dirjen Daglu (Perdagangan Luar Negeri), dan Dirjen KKP (Kementrian Kelautan dan Perikanan) yang mana kami menyatakan siap rekomendasi untuk impor garam konsumsi pada PT Garam sebesar 75 ribu ton.”

Enggar melanjutkan, sekarang ini pihaknya tinggal menunggu saja Kementrian Kelautan dewa poker dan Perikanan (KKP) mengeluarkan surat rekomendari supaya bisa diteruskan oleh Kementerian Perdagangan guna segera mengeluarkan Surat Persetujuan Impor (SPI). Ia menambahkan lagi, sesuai dengan UU (Undang-Undang”) yang mengatur bahwa seluruh pergaraman harus mendapatkan rekomendasi dari KKP dan juga menteri terkait, dan dalam hal ini Kemendag dalam mengeluarkan izin impor.

Rekomendasi dari Menteri KKP, Susi Pudjiastuti, menurut dirinya amat sangat dibutuhkan karena persoalan impor adalah masalah teknis yang mana harus diselesaikan berdasarkan realita yang ada di lapangan.

“Sekarang ini yang garam konsumsi itu tetap harus punya rekomendasi dari Menteri KKP dan tetap saja masih PT Garam yang mengimpornya. Kenapa? Karena menteri teknis tentunya lebih tahu dan lebih paham juga ada keseimbangan dari produksi dalam negeri dan lalu kalau terjadi kekurangan maka dibutuhkan izin impor itu,” tukas Enggar. Impor garam yang mana dilakukan oleh PT Gram nantinya akan melalui 3 pelabuhan di Indonesia yakni Pelabuhan Tanjung Perak, Belawan, dan Ciwandan.

Inflasi Bulan Juli diramalkan 0,35% Akibat Kelangkaan Garam

Laju IHK (Indeks Harga Konsumen) di sepanjang bulan Juli diramalkan mengalami inflasi pada kisaran kurang lebih 0,18% sampai 0,35% secara bulanan (month to month/mtm). Proyeksi ini dinilai lebih rendah apabila dibandingan dengan inflasi bulan Juli tahun 2016 lalu yang saat itu sebesar 0,69%. Bhima Yudistira, Ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef), memproyeksikan, inflasi bulan Juli 2017 sebesar 0,35% dengan kontribusi terbesar berasal dari komponen tingkat harga yang mana diatur oleh pemerintah (administrated price).

Ia menambahkan, dilansir dari CNN Indonesia, “Dampak kenaikan tarif dasar listrik dan juga kenaikan air PAM masih juga dirasakan hingga bulan Juli ini, walaupun cenderung menurun, tidak sebesar bulan Juni.”

Sementara itu, kontribusi dari komponen gejolak harga pangan atau violate foods diperkirakan masih bisa terjaga bersamaan dengan cukup stabilnya harga bahan pangan baik dari sisi ketersediaan pasokan dan juga harga di pasar. Akan tetapi, menurut dirinya, komponen bahan pangan yang mana diprediksi mengalami gangguan adalah garam. “Harga garam mengalami kenaikan dari minggu kedua bulan Juli. Meskipun kontribusinya kenaikan garam ini terbilang kecil apabila dibandingkan dengan komoditas pangan yang lainnya, tapi tetap saja menyumbang inflasi,” jelasnya. Untuk komponen inflasi inti juga masih terbilang rendah. Tapi Bhima melihat bahwa rendahnya komponen ini perlu kita waspadai mengingat ini mencerminkan lemahnya permintaan dari masyarakat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *