Perang Ekonomi AS dan Cina di Papua Nugini

Perang Ekonomi AS dan Cina di Papua Nugini

Perang Ekonomi AS dan Cina di Papua Nugini Merupakan Persaingan ekonomi antara Amerika Serikat dan Cina terus terjadi. Kali ini, medan yang menjadi

Perang ekonomi mereka adalah Papua Nugini. Amerika, untuk melawan hegemoni Cina di Papua Nugini, berencana untuk mengucurkan dana investasinya di bidang pembangunan jaringan listrik. Amerika terlihat sangat serius untuk merealisasikan rencana ini.

Salah Satu Perang Ekonomi AS dan Cina Akan Bangun Jaringan Listrik

AS dan sekutu kunci Pasifik-nya pada hari Minggu mengumumkan rencana untuk membangun jaringan listrik di Papua Nugini.

Upaya terbaru ini mereka lakukan untuk melawan pengaruh China yang tumbuh dengan pesat di wilayah tersebut.

Tidak tanggung-tanggung, Australia, Jepang, dan Selandia Baru bergabung dengan AS menandatangani perjanjian kemitraan,

Dimana bertujuan untuk menghubungkan listrik kepada 70 persen penduduk pada tahun 2030.

Proyek ini akan memerlukan “investasi skala besar baik oleh sektor publik dan swasta,” menurut pernyataan yang dirilis di ibukota, Port Moresby, di mana para pemimpin menghadiri KTT Kerjasama Ekonomi Asia-Pasifik.

Proyek ini merupakan bagian dari dukungan yang lebih luas dan kuat oleh administrasi Trump.

Untuk melemahkan pengaruh dan kekuatan ekonomi dan diplomatik Tiongkok ke kawasan Indo-Pasifik serta menawarkan alternatif lain selain apa yang ditawarkan oleh Presiden Xi Jinping.

Namun, jumlah uang yang ditawarkan oleh AS dan sekutunya masih sangat kecil jika dibandingkan dengan rencana pinjaman infrastruktur Xi di kawasan tersebut.

Sebagaimana yang dikatakan oleh Morgan Stanley, mungkin dana pinjaman infrastruktur tersebut berjumlah $ 1,3 triliun pada tahun 2027.

Tentu saja, ini seharusnya menjadi fokus pemerintah Amerika dan sekutunya jika ingin bersaing di Papua Nugini.

Perang Ekonomi AS dan Cina Semakin Kritis Dalam Proyek Cina

Di depan para pemimpin bisnis pada KTT CEO APEC pada hari Sabtu,

Wakil Presiden Mike Pence mengatakan bahwa negara-negara yang ditawarkan AS di wilayah tersebut mendapatkan “pilihan yang lebih baik” daripada (pinjaman dari) Cina.

Dia memperingatkan agar tidak mengambil pinjaman China yang tidak jelas tujuan utamanya.

Dia berpendapat bahwa AS “tidak menenggelamkan mitra ke dalam lautan utang” atau menawarkan “sabuk yang mencekik atau jalan satu arah” (Belt-and-Road Initiative).

Tidak sedikit yang mengatakan strategi Cina tersebut adalah jebakan untuk membuat negara peminjam terjebak dalam kubangan hutang.

Namun, Xi sendiri menegaskan dalam pidatonya di APEC, jika Inisiatif Belt-and-Road, “bukan jebakan”. Hanya saja, kebijakan Xi dianggap akan merugikan negara penerima dana pinjaman.

AS telah semakin kritis terhadap proyek infrastruktur yang dilakukan oleh China. Mereka mengatakan ada banyak hal yang tidak direncanakan dengan benar,

Pemborosan secara finansial dan penggunaan yang dipertanyakan.

Sebuah jalan baru dengan enam jalur yang dibangun oleh China di Port Moresby, misalnya, dijuluki sebagai “road to nowhere” menurut laporan media.

Ini dianggap pemborosan karena jalur tersebut sebenarnya tidak diperlukan.

Persaingan dalam Masalah Listrik

Bahasa dalam perjanjian listrik yang ditandatangani hari Minggu lalu terkesan seperti kecaman bagi Cina.

Kemitraan ini “dimaksudkan untuk berfokus pada :

Pentingnya pembangunan infrastruktur berbasis prinsip dan berkelanjutan yang transparan, tidak diskriminatif, bertanggung jawab terhadap lingkungan,

mempromosikan persaingan yang adil dan terbuka, menjunjung standar yang kuat, memenuhi kebutuhan yang sebenarnya dari masyarakat Papua Nugini dan menghindari beban utang yang tidak berkelanjutan.

Awal bulan ini, Perdana Menteri Australia Scott Morrison meluncurkan dana infrastruktur senilai A $ 2 miliar ($ 1,5 miliar) untuk Pasifik Selatan, sementara

Selandia Baru mengumumkan dana sebesar $ 10 juta ($ 6,9 juta) untuk embantu mendorong keterlibatan olahraga dan budaya dengan negara-negara kepulauan Pasifik.

Persaingan investasi di kawasan ini dimungkinkan akan terus meningkat bahkan memanas.

Lonely Planet: Indonesia Layak Dikunjungi

Buku panduan wisata dan jalan-jalan yang paling populer di dunia Lonely Planet yang juga merupakan penerbit media digital raksasa memasukkan tanah air kita, Indonesia dalam daftar 10 negara terbaik dan paling direkomendasikan untuk dikunjungi. Dalam daftar yang bergengsi tersebut Indonesia berada pada peringkat 7 dunia togel sgp yang paling layak dijadikan tempat tujuan wisata tahun 2019.

 

Perusahaan ini didirikan oleh Maureen dan Tony Wheeler, lalu di tahun 2007 dibeli sahamnya sebanyak 75% oleh BBC Worldwide dan pada Februari 2011 BBC juga membeli sisanya (25%). Buku yang mencantumkan nama Indonesia sebagai Negara yang direkomendasikan untuk menjadi tempat tujuan liburan 2019 tersebut dirilis dengan judul Best in Travel 2019.

 

Tanggapan dari Menpar tentang daftar Lonely Planet

Yang lebih membanggakan lagi pada sampul buku itu penerbit memuat Pura Ulun Danu di Bali, hal ini sebagaimana yang dirilis dari Antara, London.  Arief Yahya, Menteri Pariwisata menyatakan bahwa rekomendasi Lonely Planet tersebut akan sangat mendukung program yang mengupayakan kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia mencapai 20 juta orang di tahun 2019.

 

Arief juga menyebut bahwa referensi tersebut sangat penting karena akan merangsang semakin banyak kunjungan wisatawan mancanegara ke tanah air. Ini karena Lonely Planet adalah rujukan populer bagi wisatawan asing. Indonesia bahkan menjadi Negara satu-satunya di kawasan Asia Tenggara yang tercantum dalam daftar ini tanpa nama competitor kita seperti Malaysia dan Thailand. Hal ini tentu saja sangat membanggakan.

 

Ini alasannya Indonesia masuk daftar Negara layak dikunjungi

Para ahli staf Lonely Planet tentu mempunyai beberapa alasan memasukkan Indonesia pada daftar 10 obyek wisata terbaik. Pertama adalah karena kekayaan alam serta budayanya yang terbentang mulai dari Sabang hingga Merauke. Tanah air kita memang memiliki lebih dari 17 ribu pulau yang didalamnya ada budaya yang beragam, termasuk kepercayaan dan kuliner. Tentu saja hal ini akan menawarkan pengalaman liburan yang tidak terlupakan. Sebagaimana yang tertulis dalam buku Lonely Planet.

 

Di sisi lain buku panduan pariwisata tersebut juga menyinggung keadaan terakhir Indonesia yang beberapa waktu lalu sempat mengalami bencana alam, gempa. Meskipun demikian Lonely Plane menjamin bahwa Indonesia sangat aman untuk disinggahi. Lebih jauh dalam buku tersebut mencantumkan bahwa baru-baru ini beberapa bagian Indonesia yang merupakan lintasan Ring of Fire mengalami gempa. Pihak-pihak terkait terus melakukan monitoring, namun Indonesia tetap aman untuk dikunjungi.

 

Kebijakan pemerintah yang memberlakukan akses BVK atau bebas visa kunjungan bagi 169 negara di dunia juga disorot dan mendapatkan pujian. Bila sebelumnya berkunjung ke Indonesia dinilai tidak mudah, namun kini pemerintah telah memberikan akses BVK untuk lebih dari 150 negara. Lonely Planet juga kembali menghimbau wisatawan untuk berkunjung ke Indonesia dengan kata-kata yang lebih dramatis: “Kunjungi Indonesia sekarang, sebelum seluruh rahasianya terbuka!”

 

Inilah daftar 10 besar negara yang layak dikunjungi versi Lonely Planet:

  1. Sri Lanka
  2. Jerman
  3. Zimbabwe
  4. Panama
  5. Kyrgyzstan
  6. Jordania
  7. Indonesia
  8. Belarusia
  9. Sao Tome dan Principe
  10. Belize

 

Dampak penghargaan tersebut kepada pariwisata Indonesia

Apresiasi positif bertaraf internasional tersebut akan berdampak pada faktor 3C, yaitu confidence, credibility, dan calibration. Confidence Award berpotensi meningkatkan confidence level dalam bidang pariwisata dalam negeri. Berikutnya credibility award dapat menjadi sarana marketing membentuk citra pariwisata Indonesia yang positif, dan calibration berfungsi untuk mengetahui posisi Indonesia di antara Negara-negara tujuan wisata lain di kawasan Asia Tenggara.

 

Memenangkan penghargaan ini akan menciptakan peluang untuk memperoleh kesempatan yang bagus di masa yang akan datang.  Sebagaimana kondisi yang sudah-sudah, pemenang umumnya kerap dipilih banyak pihak mulai dari menjadi rekanan, produsen, serta pemasok dibandingkan para pesaing lainnya.